“Welcome to Ramadhan”

>> Sabtu, 30 Agustus 2008

Bulan Ramadhan bulan penuh rahmat dan barokah telah datang. Bulan dimana semua dosa akan dihapuskan dan bulan dimana pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka selebar-lebarnya. Oleh karena itu maka diwajibkan bagi setiap kaum muslimin untuk lebih meningkatkan amal ibadahnya serta taqwa kepada Allah SWT dan menahan diri dari setiap perbuatan tercela. Selain itu pada bulan ramadhan ini kaum muslimin diwajibkan untuk berpuasa sebagaimana di disebutkan dalam Al’Qur-an dalam surah Al baqarah yang berbunyi :
“Hai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Dalam ayat diatas Allah SWT menyatakan bahwa kita kaum muslimin diwajibkan berpuasa sebagaimana orang-orang terdahulu agar menjadi orang bertaqwa kepada Allah swt. Kewajiban puasa itu ialah salah satu tanda keimanan yang penting bagi umat Islam karena hal itu termasuk dalam salah satu rukun Islam yang wajib kita hayati dan amalkan.
Arti puasa menurut syariat bukan saja menahan diri dari makan dan minum dari mulai fajar hingga terbenam matahari tetapi juga berarti menahan diri dari perbuatan tercela dan menjauhkan diri dari segala dosa dan perbuatan maksiat dengan niat dan maksud menuntut keridhaan Allah semata-mata. Jadi dengan berpuasa pada bulan Ramadhan maka kita dapat membangun diri kita menjadi insan yang memiliki tingkat rohani yang baik dan menjadi manusia hamba Allah yang bertaqwa. Insya allah....
Para blogger budiman saya pribadi (dunia-ery.co.cc) memohon maaf sebesar-besarnya apabila ada kata-kata saya yang menyakitkan hati ataupun tidak berkenan dalam hati para blogger. Atas pemberian maafnya saya ucapkan banyak-banyak terimakasih semoga para blogger sekalian mendapat ridho dari Allah SWT, Amin....
Selengkapnya...

“Nyantai dulu ...”

Beberapa waktu yang lalu aku bersama rekan-rekanku sesama blogger yaitu Novan, Jadmiko and Abel berjalan-jalan pagi. Kami berempat rencananya pagi itu ingin jogging bersama ke Bundaran. Eh ketika sampai dibundaran besar semangat kami untuk berjogging tiba-tiba lenyap. Ya.. soalnya dibundaran sepi man jadi ngga ramai apalagi cewenya ngga ada aduch tambah nggak semangat dech ha...ha.... Untungnya saat itu Novan bawa kamera jadi ya sedikit narsis lah foto-foto dulu.

Setelah selesai jepret sana sini kami berempat melanjutkan perjalanan kami ke Jembatan Kahayan. Sebelum naik keatas jembatan aku bersama Novan beradu cepat naik keatas jembatan sementara Jadmiko berserta Abel menjadi juri lomba itu naik duluan keatas jembatan. Satu... dua....tiga...., dengan langkah super cepat aku bersama Novan berlari sekuat tenaga naik keatas kembatan itu. “Hore..” teriaku gembira sampai duluan keatas jembatan.
Setelah itu kami berempat beristirahat ditengah jembatan. Dan seperti biasa karena bawa kamera, ya... jepret lagi donk he..he... Secara bergantian satu persatu kami bergantian berpose. Kebetulan saat pagi itu pemandangan Jembatan sangat bagus dan udaranya adem beneer....., Sambil memandangi pemandangan kami semua berbagi inspirasi mengenai artikel yang akan diposting nantinya. Ngobrol...ngobrol..., eh perut terasa keroncongan. Lalu Abel yang memiliki ide cemerlang mengajak kami untuk makan-makan di BJ (istilah lain tempat nongkrong dibawah jembatan).
Kebetulan BJ pagi itu sudah buka dan banyak pedagang makanan yang berjualan. Tanpa komando, satu persatu kami memilih makanan masing-masing. Setelah selesai memilih makanan semua berkumpul dimeja yang sama, sambil ngobrol santai kami menikmati makanan kami pokok e.. manyusss.. . Mungkin karena lapar tadi tak terasa makanan dipiring kami telah habis dengan cepat. Setelah selesai makan-makan saatnya bersantai dibawah jembatan. Suasananya yang seperti pantai membuat kami larut dalam kesenangan sesekali kami melempar-lempar batu ketengah sungai, berfoto, dan menulis-nulis nama dipasir. Oke dech para blogger sekian dulu yach laporannya he..he... nyantai dulu donk.....

Selengkapnya...

“Jeritan Anak Yang Malang“

Setiap anak mempunyai cita-cita yang tinggi dan harapan yang besar terhadap masa depannya. Tapi tidak dengan diriku yang hanya anak dari seorang petani. Angan-anganku yang besar tetap tidak mampu melawan kerasnya dunia. Ayahku meninggal saat aku berusia tiga tahun. Kata ibuku, ayah meninggal karena ketidakmampuan kami untuk memberikan pengobatan yang layak kepadanya. Kenyataan itu membuat semua harapanku untuk bersekolah menjadi sangat jauh. Sering aku mencoba membujuk Ibuku untuk menyekolahkanku tetapi ia menganggap hal itu tidak penting karena keadaan kami yang selalu kekurangan.

Oleh karena itu, dikala pagi hari saat anak-anak lain pergi bersekolah aku hanya memandangi mereka dari kejauhan. Dengan sedikit iri aku membayangkan diriku menjadi mereka, “alangkah senangnya aku apabila bersekolah”. Tapi angan tetaplah bukan kenyataan.. dan kenyataannya aku harus membantu ibuku untuk berjualan sayur-mayur kepasar. Sayur-mayur yang kami jual kepasar didapatkan dari kebun kami yang kecil peninggalan ayahku. Meskipun kecil tetapi cukup untuk menanam beberapa jenis sayuran. Waktu demi waktu terus berjalan hingga suatu hari kami mengalami musibah. Saat itu beberapa orang dari kota datang kekampungku, mereka menawarkanku dengan ibu untuk menjual tanah peninggalan ayahku itu.
Ibu awalnya menolak tawaran dari orang tersebut, namun kelihatannya mereka tidak mau menyerah begitu saja. Setiap hari mereka sering mengunjungi pondok kami dengan bujuk rayu yang berbeda-beda. Kadang mereka menawarkan ibuku pekerjaan yang layak dikota, rumah, serta fasilitas lain yang belum kami pernah rasakan sebelumnya. Ibuku pernah menanyakan kepadaku “Le.., kamu mau kalo kita pindah kekota?”. Tapi aku yang saat itu masih belum bisa memutuskan hanya menyerahkan keputusan kepada Ibuku. Setelah berfikir tentang masa depanku pada akhirnya Ibuku menerima tawaran dari orang kota itu.
Tanah kami dibeli oleh orang kota itu dengan harga yang tidak seberapa, dan ia lantas mengirimkan kami kekota. Alih-alih untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dikota ternyata sesampainya kami diterminal kami hanya ditelantarkan begitu saja. Ingin rasanya kami kembali kedesa, tetapi rumah kami telah diambil alih oleh orang kota yang ternyata tidak bertanggung jawab itu. Oleh karena itu terpaksa dengan membawa buntalan yang berisi baju dan sedikit uang hasil penjualan tanah kami lantas mencari rumah kontrakan sederhana untuk tinggali. Kota yang begitu besar menyeret kami kesebuah rumah kontrakan kayu didaerah kumuh yang terletak dibawah jembatan. Meskipun kecil namun rumah itu cukup layak untuk aku dan ibuku tinggali.
Pemilik kontrakan, Ibu Sumiran cukup baik terhadap aku dan ibuku. Selain ditawari pekerjaan uang kontrakan rumah kamipun dapat dibayarkan secara mencicil. Ibuku yang saat itu tidak memiliki pekerjaan langsung menerima tawaran Ibu Sumiran bekerja sebagai tukang cuci baju dirumahnya. Sedangkan aku...., aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan karena kebisaanku hanya berladang dan tidak ada keahlian yang lain. Untungnya dibawah jembatan itu aku memilki teman yang senasib denganku. Tago dan Rido itulah nama kedua temanku yang selalu menemaniku untuk bermain. Nasib mereka tidak jauh berbeda denganku sama-sama miskin dan tidak pernah mengenyam pendidikan.
Suatu hari Tago dan Rido mengajakku untuk bekerja bersama mereka sebagai seorang pemulung. Dengan karung dan panjung kami bertiga berkeliling kota untuk mencari sisa-sisa sampah yang dapat dijual. Setiap hari kami bertiga memulung sampah dari satu tempat ketempat lain. Uang hasil kerja kerasku memulung selalu kuserahkan pada ibuku untuk menambah-nambah uang kebutuhan kami. Sebenarnya Ibuku tidak tega melihatku memulung seperti itu tapi karena keadaan kami itu membuat ibuku tidak dapat melarangku untuk memulung.
Menjadi pemulungpun ternyata tidak semudah yang dibayangkan olehku. Kadang aku berserta kedua orang temanku harus berhadapan dengan pemulung lain untuk berebut barang, tidak jarang barang hasil kami memulung dirampas oleh kelompok pemulung lain. Tidak hanya itu kami terkadang harus berkejar-kejaran dengan para satpol pp yang sering melakukan razia. Tetapi mungkin tuhan masih sayang kepadaku sehingga setiap razia aku tidak pernah sampai tertangkap.
Tahun berganti tahun kehidupan kami dikota terus berjalan dengan perjuangan keras. Tak terasa umurku sudah menginjak enambelas tahun dan ibukupun bertambah tua dan sakit-sakitan. Sering aku meminta ibuku untuk berhenti bekerja namun ia selalu menolak permintaanku itu. Ia hanya berkata “Le... selama ibumu ini masih hidup ibu ingin selalu bekerja supaya kehidupan kita bisa berubah”. Aku yang mendengarkan perkataan Ibuku itu selalu ingin menangis, tetapi aku tahan rasa tangisku itu karena aku tidak mau membuatnya ikut bersedih.
Hari itu pagi-pagi sekali aku pergi sendirian kepasar tempat aku berserta teman-temanku memulung agar mendapatkan uang yang banyak. Kebetulan seingatku pada Hari itu ibuku sedang berulang tahun jadi aku ingin menghadiahkannya makanan yang enak. Dengan semangat yang meledak-ledak aku memungut sampah yang berceceran dipasar itu. Namun sesampainya disuatu tikungan pasar yang masih sepi, kudengar suara gaduh kemudian kulihat terjadi perkelahian antara seorang preman dan pemilik toko. Preman itu menghunuskan pisau belati yang ditaruhnya di pinggang dan menusukkan pisau itu tepat didada pemilik toko itu.
Aku yang terkejut kemudian mencoba minta pertolongan. Namun mungkin karena saat itu pasar sedang sepi teriakanku tidak terdengar oleh seorangpun. Tiba-tiba tanpa kusadari preman itu telah membekap mulutku “Heh... diam atau kutusuk kau..”. Aku yang ketakutan langsung terdiam, sesekali kucoba melihat wajah preman itu. Setelah kuperhatian secara seksama ternyata preman itu ialah Gasim tetanggaku yang tinggal tepat disebelah rumahku. “Bang Gasim...?” menatap matanya. “Liman... Heh dengerin yah awas kalau kau bilang sama orang-orang aku yang menusuk bapak itu, kalau kau sampai berani kubunuh kau dan ibukau yang tua itu” mengancam dengan tatapan marah. “Ampun bang jangan bunuh ibuku..”jawabku ketakutan. “Nah sekarang kau pegang pisau ini dan jangan berteriak kalau orang tanya siapa yang membunuh pemilik toko itu bilang kau yang membunuh... awas kau macam-macam kubunuh ibumu..”menyerahkan pisau itu. “iya bang....” dengan sangat ketakutan kuterima pisau yang masih berlumuran darah segar itu. Preman itu kemudian lari keluar pasar itu mencari tempat yang ramai kemudian berteriak “Tolong... tolong .... ada orang dibunuh...” . Mendengar preman itu orang-orang berdatangan kelokasi itu. “Astaga Liman kau membunuh.....” teriak seseorang yang mengenalku. “Bukan...bukan... aku...aku... tidak...” jawabku menatap preman yang melotot kearahku. Tidak berapa lama Polisi datang dan menangkapku. Dikantor polisi aku diinterogasi aku disuruh mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak kulakukan. Tetapi karena takut ibuku dibunuh aku terpaksa melakukannya.
Dari beberapa kali persidangan yang dilakukan aku diganjar hukuman 5 tahun penjara. Selama melalui masa tahanan itu ibuku acapkali berkunjung untuk membawa makanan untukku. Ia sering menanyakan alasan tindakanku melakukan pembunuhan itu, tetapi aku tidak dapat berkata-kata dan hanya dapat diam seribu bahasa. Di sel tahanan sering aku menangis membayangkan bagaimana ibuku bekerja sendiri tanpa bantuan aku anaknya. “Ibu maafkan anakmu ini....” teriakku dalam hati.
Empat tahun telah berlalu, tetapi pada satu bulan itu ibu yang sering mengunjungiku tidak pernah muncul lagi menjengukku seperti biasa. Perasaanku menjadi tidak karuan sempat kutuliskan beberapa surat kepada Ibuku namun tidak pernah ada jawaban. Sampai suatu ketika temanku Tago datang menjengukku dan ia membawa kabar duka kepadaku. Ia berkata bahwa satu bulan yang lalu terjadi penggusuran di bawah jembatan dan ibuku berusaha menyelamatkan tempat tinggal kami satu-satunya itu. Akan tetapi karena tidak memiliki daya apapun maka rumah kami diluluh lantakkan. Hal itu membuat ibukku merasa stress dan sakit-sakitan. Tago juga mengatakan ia sebenarnya ingin mengatakan hal ini kepadaku akan tetapi ibuku menghalanginya, ia mengatakan bahwa masalah ini hanya menambah beban anakku dan ia ingin agar aku tidak memikirkan nasibnya.
“Dimana ibuku sekarang go?” memegang kerah baju yang dikenakan Tago erat. “Ibumu.... Ibumu sudah wafat Man...” mendengar ucapan dari sahabatku itu perasaanku hancur, aku menangis dan merasa bersalah tidak dapat membantu ibuku hingga saat ia meninggal. Semenjak mendengar berita kematian ibuku itu pikiranku menjadi tidak jernih aku menjadi nekad mencoba untuk bunuh diri namun seberapa kali kucoba.. tetap tidak pernah berhasil. Jiwaku yang rapuh membuatku menjadi orang stress, kadang aku bicara sendiri, tertawa, dan menangis. Keadaanku itu membuat hukuman yang dijatuhkan padaku berganti dari tahanan LP menjadi pasien sebuah rumah sakit jiwa. Sampai akhir, kenangan yang tersimpan dalam otakku ialah kenangan mengenai ibukku, tak kuperdulikan lagi semua yang terjadi pada diriku karena semua impianku terkubur bersama kematian ibuku. “Ibu maafkan aku, anakmu ini memang tak berguna ibu...” tangisku. “ ibu......” bersama teriakanku itu kuregang nyawaku pada seutas tali yang kugantung tepat didepan kamar perawatanku. Keesokan harinya, jasadku yang terbujur kaku dikuburkan bersama seluruh dukaku tepat disebelah makam ibuku yang kusayangi.
Selengkapnya...

"Saatnya Jomblo Bersaing"

>> Selasa, 26 Agustus 2008

Bagi beberapa cowo mungkin memiliki satu atau dua cewe merupakan salah satu hal yang mudah. Tetapi bagiku dan teman-teman wah itu merupakan suatu hal yang sulit, apalagi tampang kami yang pas-pasan bikin semakin sulit mendekati cewe. Giliran sudah dapat pilihan eh kesamber cowo lain begitu seterusnya dan seterusnya…” capek dech”. Padahal criteria kami nggak berat-berat amat kok cuman baik and nggak terlalu bawel ya gitu aja… untungnya lagi kalo seiman wah makin mantap...

Tapi mungkin kekurangan kami ialah agak sedikit kurang pede, ya namanya juga belum pengalaman kali ya???. Tetapi untungnya kami bersama-sama temanku yang senasib sepenanggungan dalam hal mencari cewe, bikin klub namanya JOJOBA yaitu jomblo-jomblo bersaing. Klub ini bukan klub yang seperti gank motor yang sering rusuh tapi semua anggotanya cinta damai peace yo….
Dalam klub ini semua anggotanya ialah cowo-cowo yang belum dapat cewe. Selain mempelajari teknik-teknik pendekatan terhadap cewe klub kami juga memberikan support kepada anggotanya yang telah lulus pelajaran awal untuk mencoba mendapatkan cewe ya itung-itung menambah pengalamanlah.
Dari beberapa orang yang tergabung dalam klub kami ini sebagian sudah ada yang dapat cewe loh…cewe cakep lagi. Oh iya … selain menambah pengalaman soal pendekatan cewe klub ini juga melatih kepedean dari setiap anggotanya dengan salah satunya merilis sebuah film Indie yang dikasih judul JOJOBA juga. Ya walaupun filmnya masih dalam proses pengeditan dan permak sana permak sini tapi kami cukup puas kok ha..ha… .
Didalam klub ini kami juga berbagi pengalaman mengenai tugas-tugas kuliah kami dan pengalaman pribadi masing-masing. Kalo mau liat profilnya mampir ya di blog yang sederhana di www.cerita-jomblo.co.cc oce!!!
Selengkapnya...

“Maju para pejuang Cinta...”

>> Minggu, 24 Agustus 2008

Musti Nonton Video
Cerita Di Bawah, Kalo Gak Nyesel Lho ..

“Oki”, begitu orang sering memanggilku. Ciri khusus sering merokok, bertubuh jauh dari atletis dan humoris. Bagiku hidup itu buat dinikmati dan bukan untuk disesali apa lagi dianggap susah. Dari pengalamanku dua kali berpacaran mungkin inilah saat penembakan yang paling spektakuler bagiku. Bukan bunga ataupun untaian puisi tapi video yang gue kasih sama cewe pujaan gue jadi lengkap.. eh singkat ceritanya ialah sebagai berikut...




Saat itu teman-temanku membuat sebuah film yang berjudul “JOJOBA” dan kebetulan aku satu klub dengan mereka dalam klub Jomblo-jomblo bersaing itu. Aku memiliki seorang gadis pujaan saat itu tapi belum jadian sech. Gadis itu dikenalkan oleh salah seorang temanku yang satu SD sama dia, Nah waktu reunian SD nya itu, aku ikut dan dikenalin sama dia. Ibarat kata jatuh cinta pada pandangan pertama, bayangan wajahnya selalu terngiang-ngiang dipikiranku. “Bunga...Bunga....” begitu namanya selalu kusebut dalam setiap mimpiku. Bahkan aku berani meninggalkan kebiasaanku merokok demi dia. “Cinta... hanyalah cinta hidup dan mati untukmu....”mungkin begitulah ungkapannya.
Sebagai anggota klub jomblo-jomblo bersaing (JOJOBA) aku memiliki keberanian yang lebih besar dibandingkan para jomblowan lainnya. Pada awalnya aku menanyakan nomor HP Bunga pada temanku KOMPOR (panggilan) kemudian dengan sedikit tips n trick aku berhasil menjadi sahabat dekatnya ha..ha... Kesempatan itu tidak kusia-siakan begitu saja, layaknya absen sekolah hampir setiap hari aku kirimkan sms lucu serta untaian kata standartlah seperti “Bagaimana Kabarnya?”, “Gimana Kuliahnya?”, “ Selamat pagi”, “Selamat siang” dan bla-bla-bla...
Ya, lanjut ketopik awal pembicaraan. Suatu ketika si Bunga ini hendak pergi kuliah keluar kota. Nah aku bingung soalnya belum aku tembak eh dia mau pergi. Karena itulah teman-temanku satu klub menyarankan aku untuk membuat video katakan cinta, ya.. itung-itung sekalian ngambil gambar film JOJOBA dibandara. Mendengar usulan itu, dengan pasti aku langsung menyetujui usulan tersebut.
Hari senin itu kami berangkat pukul 3 sore kebandara, teman-temanku asyik berfoto sementara aku bersama dengan temanku Agung mengatur letak kamera agar gambar pengakuan cintaku jadi bagus. Setelah menemukan tempat yang sesuai, temanku Agung kemudian meninggalkanku ya maksudnya agar aku bisa leluasa mengutarakan maksudku kepada Bunga. “Bunga aku sebenarnya.....” memulai pembicaraan. Setelah menyampaikan maksudku kepada bunga aku menghentikan rekaman handicam tersebut dan melihat hasil rekaman itu bersama teman-temanku. “Aduh suaranya kurang jelas nech” kata Agung sambil membesarkan volume. “Trus gimana donk” jawabku cemas. “Sudahlah ulang aja lagi rekamannya biar pas” usul Anto.
Setelah mendapatkan usulan itu, teman-temanku membantuku mengatur tempat lagi untuk pengambilan gambar kedua. “Oke standby Action” kata Agung mengomandoku. “Bunga sebenarnya aku mau.....” kembali mengulang pembicaraanku. “Gung sudah selesai..” memanggil Agung setelah selesai merekam. “Cieh mantap men pasti cewenya kelepek-kelepek dech habis liat videonya ha..ha...” celoteh Rahman menggodaku.
Kami kemudian bersiap untuk mengambil gambar pembuatan film “JOJOBA” eh petugas bandara datang. “Permisi ini ada apa ya?” tanya petugas itu kepada kami. “Begini kami mau ngambil gambar pak..” jawab Agung santai. “Ada izinnya nggak ?” tanya petugas itu lagi. “Nggak ada pak..” jawab kami gugup. “Ini film untuk apa sech?” tanya petuga itu menatap Agung. “Tugas sekolah pak “ langsung terucap tanpa berfikir panjang. “Oh kalo begitu adik harus minta izin dulu baru bisa ngambil gambar” menjelaskan kepada kami. Setelah mendapatkan ceramah singkat dan jelas kami kembali basecamp klub jojoba dirumah kompor (panggilan).
Singkat cerita Video itu kemudian diedit oleh temanku Agung yang kebetulan ahli dalam masalah edit mengedit video. Setelah lulus uji vit n propertes maka film itu kami tonton terlebih dahulu. “Busyet bagus banget man” semua memuji hasil video itu. Hari demi hari terlewati sampai akhirnya Bunga bersiap berangkat keluar kota. Aku berserta teman-temanku klub JOJOBA berangkat bersama-sama ke Bandara untuk mengantar kepergian Bunga sambil membawa kotak kado boneka, gelang dan video itu tentunya.
“Bunga ini aku kasih buat kamu” dengan sedikit grogi kuserahkan kotak hadiah itu untuk Bunga. “Apaan nich ki?” penasaran. “Jangan dibuka dulu ya ini adalah kenang-kenangan dariku buat kamu” sambil menatap matanya. “Makasih ya”, jawab bunga kemudian menyalami kami semua dan bergegas pergi kepesawat.
Dua hari setelah kejadian itu barulah ia menghubungiku. “Ki, aku.. aku.. ngga bias menerima kamu soalnya aku lebih suka kalo kita temenan ajah…” dengan suara agak sendu. Mendengar ucapan Bunga tersebut, perasaanku jadi agak sedih…. namun dalam hatiku berkata “Kali ini mungkin aku gagal namun semoga dikemudian hari aku pasti berhasil”. Setelah penembakan saat itu kuputuskan untuk tidak pantang menyerah mengejar cewek impianku “Bunga…. walau badai menghadang namun ku kan slalu setia menjagamu …” Nah para blogger yang sering ditolak sama cewe jangan pantang menyerah maju…………. Kejar terus………. and Kalo nggak dapet juga terpaksa “cari pacar lagi..”

Selengkapnya...

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Blogger template Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP